I N T A K E s

An Interview with Yudhi Soerjoatmojo

with 12 comments


Pada masa awal pendirian Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di tahun 1994, Yudhi Soerjoatmojo adalah kurator dan salah satu tulang punggung GFJA. Menjabat sebagai Redaktur Foto Majalah Tempo pada tahun 1987 – 1992. Ia banyak menulis mengenai fotografi, termasuk salah satu esei-nya yang mencoba merangkum perjalanan fotografi Indonesia, The Challenge of Space: Photography in Indonesia 1841-1999. Medio Januari 2011, Redaksi INTAKEs berkesempatan  menemui dan mewawancarainya mengenai perkembangan fotografi jurnalistik di Indonesia, termasuk pendapatnya mengenai keberadaan galeri foto, kebutuhan akan festival dan ruang bagi fotografi di tanah air.

Written by ruimages

February 25, 2011 at 3:32 pm

Estetika Banal oleh Erik Prasetya

with 12 comments

Pedagang Sapi Kurban di Daerah Karet. © Erik Prasetya

Mengenai Estetika Banal, pertama saya mau minta maaf kepada Firman Ichsan karena saya lupa mencantumkan di buku saya. Kata Estetika Banal ini pertama kali ada pada undangan pameran Firman dan semenjak itu saya kembangkan dan konsepnya saya pertajam. Untuk itu saya berterima kasih pada Firman dan minta maaf.

Sekarang saya ingin berbicara tentang bagaimana saya bekerja merekam Jakarta dan menawarkan sebuah model pendekatan yang saya sebut sebagai Estetika Banal. Untuk itu saya perlu, memberi sedikit gambaran. Mari kita merujuk pada dictionary pertama-tama. Estetik: concern with beauty and art and understanding; Banal: something ordinary and containing nothing. Jadi agak oxymoron, bertolak belakang, kontradiktif. Lebih parah dalam Bahasa Indonesia: Banal artinya kasar, tidak elok. Biasa sekali.

Saya mau merujuk pada Henri Cartier-Bresson yang kerjanya sangat mempengaruhi saya pada awal saya memotret dan saya ingin menyitir pendapatnya tentang fotografi:

“There is a creative fraction of a second when you are taking a picture. Your eyes must see a composition or an expression that life itself offers you, and you must know with intuition when to click the camera. That is the moment the photographer is creative. Oop! The Moment! Once you miss it, it is gone forever.”

Jadi ini hanya urusan detik dan kalau kamu dapet, dapet, kalau enggak, lewat.

Diutarakan dalam bukunya, Decisive Moment, “Photography is simultaneously and instantaneously the recognition of a fact and the rigorous organization of visually perceived forms that express and signify that fact.” Fotografi adalah pengenalan atas fakta yang langsung dan segera serta merupakan pengorganisasian ketat atas bentuk-bentuk visual yang menyatakan dan memakai fakta tersebut. Dia memakai kata Decisive moment yang pertama kali dilontarkan oleh Cardinal de Retz. Pada orang-orang inilah saya berhutang.

Ini foto-foto Paris dari Cartier Bresson. Ada pemberontakan. Anti-Tesis dari gaya sebelumnya yang selalu memperhatikan lighting, memperhatikan bayang-bayang, momen-momen yang lain. Rata-rata foto dia tidak mempentingkan itu semua, tapi kejadian-kejadian ini jauh lebih penting buat dia.

Kemudian dia terkenal dengan konsep surealisme yaitu bahwa dunia ini penuh dengan sesuatu yang diatas realisme. Surealis artinya kira-kira lebih dari real. Banyak sekali contoh foto Bresson yang foto-fotonya tipe begini, ada orang meloncat seperti gerakan balet sementara di belakangnya ada poster balet.

Bresson adalah fotografer pertama yang membuktikan bahwa surealisme itu memang ada di muka bumi ini. Kira-kira setelah André Breton membuat manifesto tentang surealisme maka Cartier-Bresson adalah orang yang membuktikannya lewat fotografi. Jadi Dadaisme sangat kental dengannya.

Sekarang kita lihat bagaimana ketika Cartier-Bresson ke Indonesia. Foto-foto HCB di Bali, mirip sekali dengan Gauguin. Lukisan-lukisan Gauguin itu kira-kira begini lah bentuknya. Gadis-gadis… Alam Minangkabau…

Dan orang kedua yang saya ingin bahas adalah Sebastião Salgado. Karena dia sangat mempengaruhi saya pada waktu dia datang ke Indonesia. Saya menjadi fixer-nya selama 40 hari dan kami pergi bersama-sama. Saya merekam semua apa yang dia lakukan dan saya belajar banyak secara langsung. Jadi setelah itu foto saya agak ke Salgado-Salgado-an.

Foto ini tolong di perhatikan baik-baik, secara estetis, indahnya bukan main. Kenapa? Nanti kita periksa. Saya punya banyak contoh bagaimana Salgado bekerja dengan tema-tema yang besar. Tema-tema dari kitab suci. Cerita-cerita dari Bible.

Foto sebagai presentasi versus representasi. Ini persoalan yang sering kita bahas. Apakah foto kita ini presentasi atau representasi? Pertama saya ingin mejelaskan dulu duduk soal ini. Foto ini mewakili kelaparan di Gurun Sahel. Ketika kita melihat ini, maka kita akan berpikir tentang kelaparan itu. Jadi foto ini disini merupakan presentasi dari kejadian kelaparan.

Sebagai presentasi, foto ini berhubungan dengan apa? Bagaimana elemen-elemen didalam foto ini berhubungan atau dengan image-image lain. Hubungan ini disebut dengan hubungan sintagmatik, sedangkan yang sebelumnya adalah paradigmatik.

Bagaimana dia berhubungan sintagmatik? Mari kita lihat. Ini lukisan tentang Sodom dan Gomorrah. Punya kesamaan yaitu satu orang ketinggalan di belakang, tiga orang ada di depan. Ini sangat kuat, image-image ini sangat kuat. Tentang bagaimana meninggalkan sebuah kota atau daerah yang terkutuk. Saya yakin Salgado bekerja dengan tema-tema seperti ini.

Buat mereka yang tahu tema-tema ini maka dengan mudah mengidentifikasi dan melihat bagaimana foto-foto ini mengingatkan kita pada cerita-cerita yang jauh lebih kompleks dan lebih panjang sebelumnya yang sudah ada di memori orang banyak.

Tapi hubungan sintagmatik juga berarti hubungan antar unsur dan gambar. Kita lihat bagaimana lighting, bagaimana pandangan kita pertama-tama jatuh kepada ketiga orang di depan. Bagaimana gurun, bagaimana ada orang menunjuk ke belakang, seperti tidak rela meninggalkan tempat yang adalah mungkin rumah mereka.

Kembali ke hubungan sintagmatik dan paradigmatik tadi, estetika menurut saya lebih merupakan perkara yang sintagmatik. Bukan berurusan dengan sesuatu yang diwakili tetapi antar elemen-elemen itu sendiri. Bagaimana unsur-unsur estetika ini? Mari kita lihat apa yang kita warisi dari seni rupa? Kita bisa melihat bentuk, titik, garis, dan sebagainya.

Apa yang telah disumbangkan oleh fotografi? Ada Point of View, ada Depth of Field, Kontras Negatif. Hampir semuanya ini urusannya teknis pemotretan. Tapi kita tidak banyak menyumbang ke dalam estetika itu dari segi bentuk, atau pencahayaan atau tekstur. Itu semua kita warisi dari seni rupa yang umurnya tentunya lebih panjang. Tentunya saya mengungkapkan ini dengan sedikit penyederhanaan, tapi kira-kira begitulah pada umumnya.

Cilincing © Erik Prasetya

Sekarang saya mau memperlihatkan apa yang saya kerjakan dengan Cilincing setelah saya sangat terpengaruh pada Salgado. Saya memotret sesuatu yang bukan dari keseharian saya. Ini adalah kelas bawah dimana drama dengan mudah saya temukan. Dengan gampang fotografer kelas menengah akan terkaget-kaget melihat bagaimana orang bekerja begitu kerasnya dan hanya dibayar sedikit. Atau bagaimana orang bisa hidup dalam kemiskinan yang begitu rendah dan tetap hidup. Itu drama buat kelas menengah.

Saya tidak yakin dari kelas kita bisa kaget, “Ih gila, makan di mal!” Kenapa? Karena kita semua makan di mall. Tidak ada yang istimewa dengan makan di mall. Itu bukan drama. Itu keseharian kita. Makan di mall itu Banal. Kita ke kafe, itu Banal, itu kerjaan kita. Tidak ada yang istimewa di kafe itu.

Bagaimana kita harus mendekati ini semua? Apakah kita harus menciptakan drama untuk itu? Padahal buat kita bukan drama. Kalau saya ke daerah yang kumuh saya akan menemukan drama. Maka semua jenis fotografi yang sudah kita kenal, lighting bagus, komposisi dan lain sebagainya itu saya akan segera terapkan dan itu akan mengundang decak kagum. Foto-foto semacam ini, bagaimana anak kecil bekerja, ini semua pengaruh Salgado terhadap saya.

Lalu ketika saya harus memotret wajah Jakarta, maka ada persoalan. Persoalan pertama adalah ketika saya mencoba dulu memotret (kereta) Jabotabek.. Itu adalah keseharian saya pada waktu itu, tidak ada yang menarik disitu. Bagaimana saya harus memotretnya? Apakah dengan lighting yang bagus? Apakah saya harus menyusun sebuah komposisi yang akan memakai pakem-pakem yang lama? Tentu saja itu bisa, tapi pada waktu itu saya merasa ini tidak memadai. Saya harus menemukan sesuatu yang lain.

Dimana fotografi mendapat estetika-estetikanya? Ini kembali mengenai lukisan-lukisan tadi. Ini foto Nachtwey, saya lupa ini kelaparan dimana lagi, dengan karya Giacometti, sangat mirip. Kemudian ini Anatomy Lesson of Dr. Tulip, sebelahnya lagi foto Che Guevara. Lagi-lagi kita melihat bagaimana dengan mudah fotografi mengambil gambar-gambar yang sudah ada di kepala semua orang, memperbaruinya dan memberinya nuansa baru.

Ini waktu Yesus diturunkan dari salib dengan foto mayat di Guatemala dari James Nachtwey. Orang seperti Sebastião dan Nachtwey bekerja dengan tema-tema besar karena dia menjual foto-fotonya ke pasar yang tahu tema itu. Jadi mereka dengan mudah mengidentifikasi “Oh ini penderitaan, Oh ini perasaan seorang ibu yang anaknya mati” Hal-hal semacam itu sangat dipakai dalam kerja fotografi.

Lalu saya merasa bahwa estetika seni rupa tidak cukup proposional untuk memotret peristiwa banal dan sehari-hari dari kelas menengah yang menjadi asal-usul kebanyakan fotografer. Estetika Banal tidak memotret drama atau peristiwa besar melainkan memotret hal-hal sehari-hari yang menjadi bagian kehidupan fotografer. Hubungan fotografer dengan yang dipotret lebih dialogis, tidak subjek dan objek. Mencari pola-pola yang sifatnya sintagmatik yang tepat, proporsional untuk menggambarkan yang paradigmatik. Jadi untuk memotret peristiwa banal maka kita mencoba mencari estetika yang juga banal.

Apa saja unsur-unsur estetika yang menurut saya bisa di explore? Antara lain adalah gerak, komposisi, yang mengejutkan yang diperoleh dari fitrah fotografi yang merekam dalam kecepatan. Kecepatan fotografi merekam ini punya dua implikasi utama menurut saya, kalau kita membandingkan dengan lukis. Pertama adalah karena dia cepat maka fotografer tidak hirarkis cara berpikirnya. Di mata fotografer singa dan kucing sama-sama bisa foto, tapi kalau seorang pelukis harus memutuskan baik-baik mau melukis singa atau kucing. Panjang urusannya. Kalau kita tidak, detik urusannya.

Ada yang bilang ketika pelukis bergeser dia menggambarkan wajah yang berbeda tetapi ketika fotografer bergeser dia menangkap ekspresi yang berbeda. Begitu cepatnya. Ini baru kita berbicara soal kecepatan, kita belum ngomong soal komposisi yang dia tawarkan dengan kecepatan itu. Bentuk-bentuk yang tidak jelas, ekspresi manusia yang bisa kita manfaatkan untuk membangun sebuah estetika.

© Erik Prasetya

Wajah Jakarta estetika banal, ini Jabotabek, contoh yang saya ceritakan. Akhirnya saya mengambil keputusan begini. Saya harus menangkap goyang, gerak, sesak, tangan-tangan bergantung maka saya pakai flash yang di bounce ke atas. Dan saya juga merasa bahwa ada ekspresi-ekspresi yang harus saya tangkap jadi walaupun saya pakai speed pelan, saya tambah flash. Karena buat saya ekspresi manusia ini adalah estetika yang lain lagi. Ini yang ditangkap oleh fotografi. Di jalan bagaimana saya mendekatinya? Saya mencoba tidak ada fokus. Focus of Interest maksud saya. Hanya komposisi saja.  Tidak ada yang utama. Disini juga tidak jelas saya memotret apa. Perempuan yang di depan ini? Gak juga. 

© Erik Prasetya

Ini juga tentang komposisi. Saya tidak memotret dua orang di depan ini, tapi memotret keseluruhan. Dan pekerjaan ini sebagian besar dilakukan oleh kamera. Saya tidak mengatur apapun. Saya cuma menambah flash dan tentu saja menyeleksinya di contact print. Hal semacam ini yang saya tawarkan untuk mendekati peristiwa-peristiwa banal di Jakarta yang saya sebut sebagai Estetika Banal.

Foto-foto semacam ini mungkin tidak lazim, tapi saya merasa dia mewakili sesaknya rasa di jalan dan saya merasa foto ini lebih pas daripada saya harus menunggu lighting yang bagus, menunggu komposisi orang yang seperti kalau saya datang ke daerah-daerah miskin. Karena ini keseharian saya, saya berhadapan dengan keseharian yang sama sekali bukan tema-tema besar, tidak ada drama disini. Karena buat saya tidak ada drama disini. Kalau kita melihat sesuatu yang eksotis, yang lain tentu saja kita melihatnya sebagai drama. Tapi kalau sehari-hari saya rasa ini bukan drama. Paling tidak di permukaan. Kalau kita ngomong ke interior lain lagi, tentu saja ada drama pada kelas menengah di interior mereka. Tapi di exterior buat saya tidak ada.

© Erik Prasetya

Reformasi buat saya juga bukan sebuah peristiwa yang eksotis buat saya. Reformasi adalah sebuah gerakan yang saya terlibat didalamnya. Teman-teman saya adalah para aktivisnya. Saya mengurus mereka ke penjara. Saya tidak datang untuk membuat berita tapi karena saya terlibat disitu. Hampir semua foto-foto saya kecuali seri Cilincing itu adalah keseharian saya. Jadi saya merasa saya harus memakai suatu pendekatan yang lain sama sekali untuk bisa menangkap apa yang menjadi keseharian saya itu.

Erik Prasetya adalah fotografer kelahiran Padang tahun 1958. Pada awal tahun 2011 ini ia menerbitkan buku fotografi, Estetika Banal, sebuah monograf yang merangkum rekaman fotonya selama 20 tahun terhadap kota Jakarta.

Disadur dan dirangkum oleh Rony Zakaria dari rekaman diskusi “Through The Horizon of Seeing” tanggal 23 Desember 2010 di Galeri Nasional, Jakarta dengan pembicara Erik Prasetya dan Firman Ichsan serta Irma Chantily sebagai moderator.

A Reflection on ‘Elements’

leave a comment »

This slideshow requires JavaScript.

Tentang Bumi dan Wajahnya
Catatan untuk pameran foto “Elements” oleh Cephas Photo Forum dalam rangka Bulan Foto LIP

oleh Lucia Dianawuri

Membaca alam lingkungan adalah seperti membaca wajah yang berupa-rupa. Wajah yang akhir-akhir ini seperti sedang berteriak, entah karena marah, entah karena ingin istirahat untuk sedikit menarik nafas. Wasior, Merapi dan Mentawai adalah rupa-rupa wajah alam yang kini sedang ‘merengut’, dan seperti mengingatkan makhluk alam lainnya bahwa mereka juga ingin didengar, dieja, lalu dibaca kembali dengan benar-benar.

Memotret adalah sebuah ejaan pada alam yang tidak melulu eksploitatif tetapi amat reflektif. Dengan memotret, pesan alam dan lingkungan sekitarnya bisa disampaikan kepada khalayak secara lugas. Pesan yang sepertinya hanya ingin bicara tentang keselarasan dan keharmonisan.

Mengutip Sontag, “to photograph is to appropriate the thing photographed. It means putting oneself into a certain relation to the world that feels like knowledge-and, therefore, like power”.1 Dengan memotret, sang pembidik telah mencipta sebuah hubungan dengan objek yang akan difoto, yang sejatinya adalah pengetahuan. Dengan pengetahuan, sang pembidik seperti memiliki sebuah kuasa. Kuasa untuk mengontrol visualisasi dari karya foto yang dicipta sehingga pada akhirnya memiliki kuasa untuk mengatakan sesuatu.

Upaya untuk merestorasi bumi dan elemen di dalamnya lewat bahasa visual itu, telah dilakukan oleh sebuah Photo Forum, berbasis di Yogyakarta. Pameran foto bertajuk “Elements” yang bekerjasama dengan Lembaga Indonesia Perancis, adalah usaha Cephas Photo Forum, memberi sesuatu yang nyata kepada bumi dan wajahnya yang sedang ‘merengut’ itu.

Delapan fotografer yang tergabung dalam Cephas Photo Forum itu adalah :

Kurniadi Widodo, melalui karyanya yang berjudul “Unnatural Coexistence” mencoba membaca gejala-gejala yang ada di lingkungan masyarakat sekitarnya, yaitu masyarakat urban Jogja yang harus berkompromi dengan alam juga modernitas. Namun akhirnya, dalam karya-karyanya itu, Wid sebenarnya ingin bertanya, siapakah atau apakah yang harus berkompromi. Manusia atau alamkah? karena manusialah yang dengan semena membuat batasan-batasan pada alam tetapi manusia pun tak bisa mengelak ketika alam sedang bergolak.

Fauzan Ijazah atau Yo, lewat karya “Man-eating Tigers and Tiger Tamer”, mendokumentasikan seorang penangkap Harimau tradisional berusia 70 tahun bernama Syarwani Sabi dari Arongan, Aceh Barat. Dalam karya fotonya itu, Yo secara gamblang memperlihatkan bagaimana Syarwani menangkap seekor harimau dengan cara-cara yang masih tradisional, misalnya saja dengan menggunakan perangkap dari kayu, serta anjing sebagai umpan. Walaupun zaman sudah bergerak maju, Syarwani percaya, metode tradisional yang ia pelajari secara turun-temurun dari nenek moyangnya itu, masih ampuh menangkap harimau yang buas tanpa menyakiti si harimau. Sama seperti Wid, Yo, ingin mengatakan bahwa kedua elemen bumi ini harus saling berkompromi untuk bisa bertahan hidup.

Oscar P. Siagian membingkai ceritanya dalam “Rhythm of Life”. Ia membaca dan mendokumentasikan tradisi perburuan paus oleh sebuah masyarakat di dusun kecil Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Oscar, secara visual menampilkan ragam wajah bumi, dimana tradisi dan kearifan lokal masyarakat dalam membaca alam diterapkan dalam ritual tahunan masyarakat Lamalera. Cerminan sebuah kearifan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Budi N.D Dharmawan dengan karya “Green Gold” melihat sebuah upaya konservasi ditengah tebalnya deforestasi hutan Indonesia. Budi melihat adanya harapan bagi alam ini untuk tetap bernafas walau eksploitasi besar-besaran juga terus terjadi. Perusahaan milik pemerintah yang mengurusi kayu hutan di Blora, Jawa Tengah, adalah harapan yang menurut Budi dapat menjadi simpanan harta karun bagi masa depan alam, terutama Indonesia.

Ulet Ifansasti, mencoba membaca rupa alam di Sumatera, dengan karya foto “Deforestation in Sumatra”. Sebuah rupa yang begitu khas manusia, esksploitatif! Ifan memotret kondisi yang bertolak belakang dari Budi, betapa sifat khas manusia itu telah membuat rupa alam jadi begitu terancam. Misalnya saja atas nama kesejahteraan, hutan yang ramah lingkungan telah dikonversi menjadi hutan yang akhirnya mengganggu ekosistem. Akibatnya kerusakan parah yang terjadi di hutan Sumatera itu telah mengakibatkan sejumlah spesies langka Sumatera terancam punah.

Doni Maulistya, atau Aul, berefleksi lewat karya “Gone”. Ia melihat bagaimana hubungan (yang seharusnya) simbiosis mutualistis terjadi antara manusia, bumi dan elemen-elemen yang ada di dalamnya. Manusia (seharusnya) mencintai, merawat dan menghormati bumi karena ketika itu terjadi, bumi akan demikian juga. Tanpa ada manusia, bumi hanya sebuah tempat sepi tak dicintai. Tanpa ada bumi, manusia hanya akan jadi makhluk tanpa rumah ‘tuk berpijak.

Michael Eko, menyajikan karya “Knock-Knock, Knockin’ on Innocence Door” sebagai sebuah refleksi personal Eko tentang perjalanannya menembus pedalaman Kalimantan. Dalam perjalanannya itu, ia berefleksi tentang hubungan bumi dengan segala penghuninya. Sebuah refleksi romantis Eko, membaca rupa bumi yang tidak bisa melepaskan diri dari manusia dan segala apologinya terhadap alam sekitarnya, begitu juga sebaliknya.

Karolus Naga mencoba memotret Merapi sebagai bentuk refleksi personalnya atas sebuah gunung yang begitu membawa aura mistis bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Pembacaan dalam bentuk karya foto yang telah dilakukannya sejak 2001 itu, dibingkai Naga dalam sebuah karya sastra milik Dante, La Divina Commedia, “Purgatorio”.

Membaca Alam Melalui Fotografi

Membaca alam melalui media fotografi adalah hal yang patut dihargai, apalagi saat ini kita tidak bisa tidak mengelak dari serangan imaji-imaji visual. Seperti istilah Kundera2, “imagology” yaitu sebuah kondisi dimana kenyataan telah semakin dipahami melalui rangkaian imaji, melalui frame-frame gambar yang dicitrakan oleh pembidik melalui kamera.3

Studium dan punctum4 yang dihasilkan oleh kedelapan fotografer ini adalah sebuah usaha untuk menyibak yang selama ini belum benar-benar terkemuka. Seperti yang dikatakan oleh Edward Weston5, bahwa tugas fotografer bersifat profetik, subversif dan revelatoris.6 Ia harus berani mengungkapkan persoalan tersembunyi di balik yang tampak. Sebuah persoalan mendasar tentang tidak selarasnya hubungan manusia dengan alamnya selama ini.

Dengan kekuatannya, fotografer harus mampu menarik perhatian yang menonton, serta mencipta visi-visi baru. Sebuah realitas yang kesannya banal, kejadian sehari-hari, serta hubungan normal antara manusia dan alam sekitarnya, dapat dibuat oleh si fotografer menjadi rupa yang sungguh luar biasa, dan terkadang membuat ‘panik’ juga ‘miris’, dengan menggunakan alat bidiknya. Sebuah upaya untuk menarik perhatian massa atau kata Sontag, “aphotheosized”.

———————————————

1 Susan Sontag, On Photography, 4.
2 Milan Kundera adalah seorang penulis asal Cekoslovakia, yang diasingkan di Prancis sejak tahun 1975, dimana pada tahun 1981, ia resmi menjadi warga negara Prancis. Kundera terkenal lewat karya The Unbearable Lightness of Being, The Book of Laughther and Forgetting dan The Joke.
3 Bambang Sugiharto, untuk Oscar Motuloh dalam Soulscape Road, 148.
4 Studium dan punctum adalah salah satu konsep dalam membaca foto yang dicetuskan oleh Roland Barthes. Studium adalah saat kita meraba-raba, mengeksplorasi unsur-unsur yang ada dalam foto. Studium sejajar dengan saat perseptif. Punctum adalah saat kita mulai bergerak dan berhenti pada satu titik karena titik itu mengesankan saya. Melihat foto adalah sebuah perjalanan dari stadium ke punctum untuk memulihkan foto yang mengancam kita. (ST. Sunardi, Semotika Negativa, 190)
5 Edward Henry Weston adalah salah satu fotografer Amerika pada abad ke-20. Weston disebut-sebut sebagai salah satu fotografer Amerika yang paling inovatif dan paling berpengaruh pada masanya.
6 Bambang Sugiharto, untuk Oscar Motuloh dalam Soulscape Road, 148.

Tentang Penulis
Lucia Dianawuri, penulis lepas, berdomisili di Yogyakarta, dan saat ini sedang menyelesaikan studi di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Beberapa tulisannya bisa dibaca di http://luciadianawuri.blogspot.com/

An Interview with Julian Sihombing

with 10 comments


Julian Sihombing adalah fotografer jurnalistik senior Indonesia yang sejak 1987 bekerja untuk harian Kompas. Ia baru saja meluncurkan buku pertamanya Split Second, Split Moment, yang berisi kompilasi karyanya selama lebih dari 20 tahun berkarir sebagai jurnalis foto. Kompilasi ini menyajikan sejumlah foto-foto lepas mulai dari keseharian kehidupan hingga peristiwa bersejarah reformasi Indonesia pada Mei 1998. Minggu ini ia menemui editor INTAKEs, Okky Ardya dan fotografer Rony Zakaria, di gedung harian Kompas di Jakarta Barat dan berbicara mengenai karyanya, buku pertamanya, generasi muda dan tantangan fotojurnalistik di Indonesia.

Written by ruimages

October 1, 2010 at 2:30 pm

Jan Banning Portraiture Lecture at Erasmus Huis

with 5 comments

Manusia dipandang sebagai sesuatu yang memiliki dimensi yang lebih tinggi daripada benda-benda. Manusia berpikir dan merasa dengan keseluruhan dirinya. Fotografi yang selama ini kita kenal sebagai medium untuk menangkap momen, kian melampaui maknanya ketika ia berhadapan dengan sekumpulan jiwa yang dihadirkan dalam sebentuk potret atau gambar diam. Dan dalam Portrait photography atau Portraiture, ‘jiwa’ tersebut berusaha ditangkap dan diabadikan dalam bentuk potret.

Wainem dari seri Jugun Ianfu / Jan Banning

Portrait photography adalah seni menangkap emosi. Seni memahami sosok atau subjek yang ada di depan kamera dan memahami mereka sebagai individu yang utuh. Setidaknya pesan inilah yang disampaikan Jan Banning (www.janbanning.nl) dalam ‘ Kuliah Portrait ‘ -nya (Portrait Lecture) di Erasmus Huis, Jakarta pada 14 Agustus 2010 lalu. Pemenang  World Press Photo kategori Portrait series tahun 2004 ini juga berbagi pemikiran  dan pengalaman seputar projek-projek yang pernah dikerjakannya, yang beberapa diantaranya dikerjakan di Indonesia.  Antara lain projek Romusha – The Traces of War dan projek Jugun Ianfu (The Comfort Women) yang dilakukan sejak Mei 2008 hingga Juli 2009.

Kejeliannya menangkap emosi dari setiap subjek yang difotonya tidak terlepas dari kemampuan seorang Jan dalam menempatkan diri dan kedekatannya dengan objek.

“I’m not  just behind the camera, I’m a person. The most basic thing in a portrait, you are there as a person first and only second as a photographer.”

Simak lebih lanjut  ‘ Kuliah Portrait ‘ Jan Banning yang bisa di-download dalam format PDF dan  mengambil pelajaran berharga dari Jan Banning.

Download Jan Banning Lecture @ Erasmus Huis Transcript

Written by ruimages

September 20, 2010 at 10:33 am

INTAKEs First Sight!

with one comment

Selamat datang di INTAKEs – Images, Inspirations and Interviews.

INTAKEs merupakan blog afiliasi dari RU Images Photo Collective yang secara rutin akan menyajikan wawancara dan serangkaian foto serta artikel-artikel yang mengispirasi dari dunia fotografi.

Fotografi mampu merepresentasikan dunia secara apa adanya, begitu juga halnya dengan INTAKEs yang akan mencoba menyajikan dan berbagi apa yang kita lihat, dengar, dan baca. Semoga menginspirasi.

Written by ruimages

September 8, 2010 at 1:47 pm

Posted in Uncategorized

%d bloggers like this: